Sabtu, 11 Februari 2012

Kisah Wanita Cantik Yang Shalihah Di Madinah



Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”
Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.
Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.
Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”.

(Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Jumat, 10 Februari 2012

PiSS Jangan Lebay..


Ada saatnya manusia dihadapkan pada masalah,,,
banyak cara yang dipakai,,,
menyelesaikan, atau ingin mengakhirinya..atau ingin menghadapinya...
atau ada juga yang menjauhinya saja,,
tak perlu mencari solusinya sampai harus ngungsi ke planet Mars...
ketika memang jalanya harus lurus,
ya lurus aja ga usah memaksakan diri untuk belok,,,
ketika harus belok, ya belok aja ga usah juga memaksakan diri untuk tetap lurus,,,
atau malah takut lurus atau ga berani belok,,??
memilih jalan ditempat, atau nunggu orang lewat biar ada temannya??!
kamu harus putuskan, karena ga mungkin kamu tetap jalan ditempat,
keburu bekal makananmu habis ditempat,
mw nunggu ada temen lewat,,bisa aja, boleh aja, tapi pasti ada konsekuensinya,,bisa aja
teman yang kita tunggu itu justru ga tw arah, atau malah kelewat parah..lho..lho..lhooo..
coba tanyakan dulu pada teman yang memang kau yakini dapat membantumu melangkah..
itu hanya ilustrasi sederhana,,yang mungkin kita sendiri pernah mengalaminya,,
atau saat ini sedang dalam posisi itu,,
uraikan saja, satu demi satu..
buatlah sahabat tubuh menyugesti seluruh raga..
jangan takut..
jangan sedih lagi..
jangan lemah..
jangan gundah..
jangan lebayyy.. >_<
(maaf hanya ekspresi jamaah manusia, bukan jamaah malaikat kan..^^)

Senin, 19 Desember 2011

Untukmu yang Kelak Melihat Senja..


Dalam dekapan sepuluh jemariku,
setiap denyut jantungku adalah doa untukmu,
menantimu dalam kurun masanya,
meski rasa rasa rujak selalu menemani,
aku akan terus kuat dan sanggup,
ketika tiba tiba panas dingin rasanya.
Ketika tiba tiba rasa pusing menerpa.
Ketika tiba tiba lelah kantuk tak terjaga.
Makan menjadi porsi utama.
Sungguh apa ini rasa istimewa yang Dia anugerahkan untuk kita.
ku beri tahu ketika abi tengah malam mencarikan sesuatu untuk kita,
dengan semangatnya ia melangkah,
padahal rasa kantuk terhias nyata diwajah gantengnya.
Untukmu yang kelak akan melihat senja,
mendengar suara dunia,
teruslah menjadi bentuk yang indah.
Agar kami lebih pandai bersyukur lagi.
Teruslah dalam rupa yang indah.
Tampan seperti abi,
manis seperti bunda.
Amin..

Rabu, 28 September 2011

Nomor Satu ? adalah"Mereka"


-Number One For Me-


I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I'm here for you


For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it's time for you to rise
For all the things you sacrificed

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me

Now I finally understand
That famous line
About the day I'd face in time
Coz now I have a child of mine

Even though I was so bad
I've learnt so much from you
Now I'm trying to do it too
Love my kids the way you do


Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me

There is no one in this world
That can take your place
Oooh I'm sorry for ever taken you for granted

I will use every chance I get
To make you smile
Whenever I'm around you

Now I will to try to love you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

The number one for me
The number one for me
The number one for me
Oh oh
number one for me

abdurrahman_faiz(at)ymail.com
Sumber http://maherzaintube.blogspot.com


Setelah denger nasyidnya Maher Zain, rasanya ada sesuatu,,,tepatnya aku rinduuu..karena itu akhirnya curhat di sini, biar kalau nanti kembali ke Allah, ada kenangan untuk mereka, dan sekalian upload foto mereka biar selalu menemani waktu ngeblog... :D

Teringat saat nyawa hampir kembali pada Sang Pemiliknya, namun hal itu kini menjadi kenangan dan muhasabahku untuk saat ini dan untuk sampai umurku berlaku bagi jasadku, pengorbanan orang tua yang telah mendidik dan membesarkanku adalah anugerah dari Allah. Mereka adalah orangtua yang sudah ku anggap sebagai malaikat dari Allah, telah menjadi bagian dari hidupku, padahal kami hanya punya hubungan saudara dalam Islam. Semua yang mereka berikan adalah bentuk Allah Maha Pengasih. (tak bisa kusebutkan dalam kata-kata yang luas) Mereka adalah orangtua yang akan terus menjadi judul bagi doa-doaku di setiap nafas ini, kedua orang tua yang mendidik dan membesarkanku ada di Depok, meskipun bertemu dengan mereka saat-saat tertentu, melihat perubahan fisik mereka rasanya ingin berlinang air mata ini tapi terus ku tahan, tak layak karena insyallah Allah akan menjaga mereka. 




Sedangkan orangtua kandungku yang masih seorang diri karena sudah 25 thn silam ayah pulang kerahmatullah berada di Jawa Tengah, subhanallah keikhlasan mae (panggilan untuk ibuku) karena permintaanku juga sewaktu kecil tidak ingin punya ayah lagi hingga umur yang menua ini masih diistiqomahkan, suka istigfar kalau-kalau kita saling rindu tapi mae yang duluan telpon, mendengar suaranya sudah menjadi obat rinduku. Orang tua yang melahirkanku tentunya menjadi nomor satu, karena disetiap nafasnya selalu terucap doa untukku tak pernah lelah memberikan yang terbaik untuk kami anak-anaknya. Kini rasanya sering menjadi rindu adalah episode tiap hari karena jauh dengan mereka semua..



Kini aku bersama dengan jodohku  (insyallah hingga akhir hayat bisa bersama-sama dalam dekapan sakinah bersamanya) yang ditetapkan Allah, cinta nomor satu juga untuk dirinya, subhanallah teringat dengan proses yang sangat hati-hati itu adalah hal yang terus menjadi muhasabah untukku terhadap Allah, Ia karuniakan seorang laki-laki yang sederhana, insyallah ikhlasnya lebih besar, saat tahu saya menderita penyakit yang menular ia dengan mantap terus menyakinkan bahwa Allah Maha memberi kesembuhan, dua minggu sebelum prosesi ijab qobul kami, aku memeriksakan ke rumah sakit, Alhamdulillah hasilnya subhanallah  “negative”. Dan kami melangkah dalam pernikahan yang sederhana namun penuh hikmah..



Kini rindu itu bersama-sama diolah dalam hatiku..
Rasanya ingin dekat dengan mereka semua dalam satu tempat (insyallah di Jannah Allah..)
Saat Rahmat Allah masih diberikan untuk umurku, insyallah akan ku raih cinta-cinta mereka diatas naungan cinta Allah. Memberikan yang terbaik untuk mereka tak ada yang nomor dua, tiga, atau empat, semuanya nomor satu setelah cinta Allah…





Jumat, 17 Desember 2010

Masih Ada Waktu




Mencoba menata diri…
Memahami fikiran dan perasaan..
Mencoba memahami apa yang dirasa orang lain, agar orang lain dapat memahami
perasaanku..

Nasi belum menjadi bubur…
Masih ada waktu..
Entah kapan??!

“Katamu?!”
“Akan indah pada masanya”

hmmmmz…
Jika sudah saatnya;
Akan ku Kejar..
Akan ku Usahakan..
Akan ku Raih…

sampai mereka faham;
Bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dipaksakan…
Bahwa kebahagiaan itu hak bagi semua insan…

Aku optimis…
Sebab, telah awal mereka sudah merasakan, apa itu “Kebahagiaan”
… pastinya mereka lebih faham…

tentang dirimu kelak, jika sudah saatnya..
Jangan pernah merasa mati, atau meratapi takdir..
Padahal saat ini Dia masih memberi nikmatNya…
Padahal saat ini belum ada ketetapan pasti…

Ini hanya masalah waktu, pengertian dan kepercayaan…
Tetaplah terus merapat pada dekapanNya..
Meminta, apa yang harus diminta..
Merayu, terus merayu..
Sampai Dia lelah…*Padahal Dia takkan Lelah*

Aku akan terus meneguhkan langkahmu..
untuk saat ini..
Nanti…
atau bahkan Kelak…
Jika Dia masih memberi kesempatan…

Teruslah melangkah..
Dengan senyummu selebar ini ^_____________^
Jangan takut..!!!



ada juga di sini :

http://blogselasamalam.wordpress.com/motivation-of-the-day/masih-ada-waktu/

Sabtu, 11 Desember 2010

Tapi Kenapa??

Setiap manusia berhak untuk membela dirinya dihadapan siapapun
Ketika ia telah terpergok berbuat kesalahan,
kadangkala apa yang kita ucapkan,
memang tidak seluruhnya kita akui atau kita ingat,
tapi kenapa??
Membela diri dihadapan manusia adalah kepuasan tersendiri bagi manusia
Tapi kepuasan itu hanya sementara bahkan ujungnya
adalah pengungkapan aib dan kesalahan kita kepada seluruh manusia…
puaskah??
Hati-hati menjaga lisan,
karena itulah dua diantara yang membahayakan kita,
ya nafsu dan lisan kita..
Ya Allah terangilah gelap hitam hatiku
Ya Allah sucikanlah hati ikhlas untukMu
Ya Allah terus bimbing hamba hingga akhir
berjumpa denganMu…
tolong jauhkan hamba dari hal-hal yang dapat
merusak hati hamba kepadaMu..

Kamis, 30 September 2010

5 Menit Bersama Jamaah Facebooker



Sering kali saya mendapatkan hal yang mengerutkan dahi ketika membuka situs jejaring social yang namanya facebook bahasa rakyat yang temen-temen kenal sebagai FB.

FB sudah menjadi bagian kehidupan sebagian umat di Dunia ini, bahkan ada juga yang lagi iseng-iseng bikin FB dunia para hantu (hehe, ada-ada aja), sampai-sampai FB an dimanapun itu berada dilakukan sebagian rutinitas, kalau kata temen saya “dunia tanpa FB sempit banget” (senyum saya dengernya, alias tersindir juga), update sesatus tiap hari sekali, ada yang sampai sepuluh kali bahkan lebih.

Menyikapi status ustadz Satria Hadi Lubis pada tanggal 29 September 2010 (tuh kan, saya sampai inget) yang bunyinya “Di jaman dahulu menjadi orang yang narsis jauh lebih sulit daripada menjadi orang yang rendah hati (tawadhu). Sekarang, sebaliknya”.

Inilah fenomena facebook, saat ini kita yang dahulu sebelum ada facebook ga berani unjuk gigi alias lebih privat terhadap keadaan diri kita kepada orang lain, sekarang orang lain bisa dengan mudah mengetahui keadaan kita, materi-materi hijab, materi-materi ghadul basyar, materi-materi iffah, materi-materi izzah apa masih menempel dicatatan memori kita?? (saya langsung terdiam, ternyata saya juga tersindir).

Bahkan dahulu ketika kita narsis berfoto-foto itu hanya menjadi milik pribadi dan orang-orang dalam foto itu, sekarang malah menjadi milik public yang siap dinikmati sejuta umat.

Saat saya taya paman google tentang dampak facebook ternyata sekitar 488,000 hasilnya terpampang disana, tidak heran jika isi FB memenuhi rangkaian kehidupan kita, mulai dari masalah moral, agama, social, politik, hukum, romantisme, hiburan bahkan bisnis semua yang ada di Dunia ini ada, bahkan yang berbau akhirat juga ada, sudah tidak asing lagi untuk kita, bahkan sering kita tertampar dengan artikel-artikel itu tapi kita tak sadar-sadar juga, atau malah menganggapnya teori aja, jujur saya berkata ini bukan berarti saya juga bersih dari penyakit ini, saya ternyata juga korban atau bisa disebut sebagai orang yang sengaja memakai facebook dalam kehidupan.

Teringat saya dengan seorang teman yang dulu mengonsumsi FB, bahkan dia mengonsumsi FB hampir tiap jam (bahasanya sederhananya mah “kecanduan FB”), meski statusnya selalu berbau nilai positif, dan berbau dakwah, tapi tetap saja dia menganggapnya sebagai hal yang berbahaya, buktinya saat ini dia sama sekali mengundurkan diri dari jamaah FB,,,

alasannya cuma satu, ketika insiden serangan Israel ke Kapal Mavi Marmara, yang membabibuta itu menyadarkan dia lebih jauh, bahwa FB yang kita ketahui adalah situs milik Israel yang sebagian dananya dipergunakan untuk dana penyerangan saudara kita di Palestina…alasannya hanya itu, sikapnya yang terlalu berlebih atau sikap yang patut di ajungkan jempol, temen-temen yang bisa menilai.

Jika kita tidak dapat berbuat seperti fulan tersebut, setidaknya kita tidak teerrrlaluuu (copas kata-kata bang Omairama) menjadikan FB menjadi hal yang serius, cukup untuk berkomunkasi dan silaturahim dengan orang-orang yang kita kenal dan sulit berhubungan di Dunia nyata..atau sekedar merifresh otak yang penat dari rutinitas kerja, jangan sampai FB atau sebagian dari perbuatan kita di FB dijadikan dan dibawa-bawa ke Dunia nyata, tapi ga menafikkan juga sih, ada sebagian orang yang memicu pertengkarang rumah tangganya dari FB, hanya karena salah faham, salah berkomunikasi atau curiga-curiga atau apalah…

Kadangkala saya berfikir agak primitive (ini juga baru berfikir, entah nanti aplikasinya gimana) share aja ya temen-temen, saya pernah berfikir, ketika saya harus melanjutkan ke jenjang pernikahan, saya sampai parno duluan nih..hehehe.

Apakah jika saya nikah nanti sebaiknya memilih orang yang memilih dan dipilih saya adalah orang yang sama sekali saya tidak kenal…entah di Dunia nyata atau di Dunia maya….biar saya ga menjadi korban FB lah salah satunya, sangat miris sekali jika kita tiba-tiba berdebat kecil cuma gara-gara FB,,,^^”

Teman-teman jangan langsung ikut-ikitan parno ya,,,saya yakin pola fikir dan kepribadiaan kita beda-beda, pastinya ada yang lebih berfikir cerdas dari saya.

Satu pertanyaan saya : apa anda membuka FB tiap hari?? (jawab ya)
Nah ngaku aja, klw iya juga gpp,,,dari sana kita akan tahu, bahwa ternyata kita ga bisa terlepas dari FB sampai kita sendiri yang bosan dan entah sampai kapan itu.